DEMOKRASI

Pemilihan Ketua Osis SMP N 1 Sungai Penuh.

PRAMUKA

Kegiatan Pramuka SMPN 1 Sungaipenuh untuk meningkatkan disiplin, kreativitas dan kemandirian.

BUDAYA

Bersama Siswa Berpakaian Adat Daerah Kerinci.

PENDIDIKAN OLAH RAGA

Pembelajaran tentang Bola Basket, Teknik dasar mendrible bola.

PENDIDIKAN KARAKTER

Shalat Ghaib Bersama untuk warga Rohingya di Halaman SMP N 1 Sungaipenuh.

Sabtu, 18 November 2017

Gallahue dan teori penelitian

reliabilitas diartikan dengan  keajekan (konsistensi) bila mana tes tersebut diuji berkali-kali hasilnya relatif sama,

validitas adalah Derajat keetepatan/kelayakan instrumen yang digunakan untuk mengukur apa yang akan diukur serta sejauh mana instrumen tersebut menjalankan fungsi pengukurannya

Objektif dalam penelitian adalah jadi hasil dari penelitian itu harus mengenai fakta dan data-data tanpa dipengaruhi pendapat pribadi

Gallahue (1996:22) menyebutkan tentang karakteristik perkembangan motorik anak di masa later childhood atau berumur 8-12 tahun, bahwa “Perceptual abilities become increasingly refined.The sensorimotor apparaturs work in ever greater harmony, so that by the end of this period, children can perform numerous sophisticated skills”.Kemampuan anak dalam perceptual pada masa ini sudah mulai meningkat dan bekerja secara harmony untuk belajar gerak sehingga pada akhirnya dapat menunjukan keterampilan geraknya.Mereka sudah mulai bisa menaunjukan penampilan keterampilan motoriknya dalam gerakan lokomotor maupun manipulative.

arakteristik perkembangan motorik anak yang berada dalam masa later childhood sekitar 8-12 tahun menurut Gallahue (1996:22) adalah “Fundamental motor skill should be well develoved by the beginning of this period, and children are ready to be introduced to a variety sport skills”. Anak usia 8-12 tahun sudah seharusnya menguasai gerakan fundamental skills

Gallahue (1996:22) mengklasifikasi anak ke dalam dua kategori, yaitu early childhood (3-8 tahun) dan later childhood (8-12 tahun) untuk melihat perbedaan pertumbuhan dan perkembangannya. Tentang karakteristik perkembangan motorik pada anak di masa later childhood atau berumur 8-12 tahun, Gallahue (1996:22)  menyatakan bahwa “Perceptual abilities become increasingly refined. The sensorimotor apparaturs work in ever greater harmony, so that by the end of this period, children can perform numerous sophisticated skills”. Kemampuan anak dalam perceptual pada masa ini sudah mulai meningkat dan bekerja secara harmony untuk belajar gerak sehingga pada akhirnya dapat menunjukan keterampilan geraknya.Mereka sudah mulai bisa menaunjukan penampilan keterampilan gerak dasar yaitu lokomotor dan manipulative.
Gallahue (1996:279) menyatakan bahwa keterampilan gerak dasar lokomotor, yaitu: “Total body movement in wich the body is propelled in an upright posture from one point to the onother in a roughly horizontal or vertical direction, movement such walking, running, hopping, galloping, leaping, sliding and jumping”.Jadi keterampilan dasar lokomotor adalah gerakan tubuh yang terjadi karena tubuh menggerakan posisi badan yang semula tegak menjadi bergerak ke suatu tempat ke tempat lain dengan arah horizontal maupun vertical yang terdiri dari berjalan, berlari, melonjat dan melompat.
Sedangkan keterampilan gerak dasar manipulative menurut Gallahue (1996:279) menyatakan bahwa keterampilan gerak manipulative, yaitu:“Gross body movement in wich force is imparted to or received from object, suc as throwing, cathing, kicking, dribbling and striking”. Artinya, gerak dasar manipulative adalah gerakan kasar dengan menggunakan tenaga untuk memberi atau menerima suatu objek, seperti melempar, menangkap, menendang, memantulkan dan memukul.

Jumat, 17 November 2017

GERAK DASAR FUNDAMENTAL



Beberapa gerakan pada Gerak Dasar Fundamental

Gerak Dasar

Lokomotor

non Lokomototor

Manipulatif

berjalan
berlari
meloncat
melompat
melayang
meluncur
berjingkrak
memanjat

membungkuk
meregang
memutar
mengayun
handstand
memutar tubuh
mendarat
berhenti
mengelak
keseimbangan


melempar
menangkap
menendang
menjerat/menjebak
menyerang
memvoli
melambung
memelanting
bergulir
menggelinding
menyepak


Gerak dasar fundamental (fundamental basic movementmenurut Harrow (1972) adalah pola gerak yang inheren yang membentuk dasar-dasar untuk keterampilan gerak yang kompleks, yang meliputi (1) gerak lokomotor; (2) gerak non lokomotor; dan (3) gerak manipulatif.

     1.   GERAK LOKOMOTOR (Locomotor Skills)
Gerak Lokomotor adalah gerakan berpindah tempat, dimana bagian tubuh tertentu bergerak atau berpindah tempat. Gerak dasar lokomotor merupakan salah satu domain dari gerak dasar fundamental (fundamental basic movement), Keterampilan lokomotor didefinisikansebagai keterampilan berpindahnya individu dari satu tempat ke tempat yang lain. Sebagian besar keterampilan lokomotor berkembang dari hasil dari tingkat kematangan tertentu, namun latihan dan pengalaman juga penting untuk mencapai kecakapan yang matang.
Keterampilan lokomotor misalnya berlari cepat, mencongklang, meluncur, dan melompat lebih sulit dilakukan karena merupakan kombinasi dari pola-pola gerak dasar yang lain. Keterampilan lokomotor membentuk dasar atau landasan koordinasi gerak kasar (gross skill) dan melibatkan gerak otot besar.
Gerakan-gerakan lokomotor adalah gerakan-gerakan yang pergi ke mana saja. Para ahli mendefinisikan gerakan lokomotor sebagai gerakan-gerakan yang menyebabkan tubuh berpindah tempat atau mengembara dalam berbagai ruang, sehingga dalam bahasa Inggris disebut juga Traveling. Ini tentunya merupakan kebalikan dari gerakan non-lokomotor, yang tidak menyebabkan tubuh berpindah dari satu tempat ke tempat lainGerakan lokomotor merupakan dasar bagi perkembangan koordinasi gerakan yang melibatkan otot-otot besar (gross-muscles), pertumbuhan otot, daya tahan dan stamina.

     2.   GERAK NONLOKOMOTOR (non Locomotor Skills)
Gerakan non-lokomotor dapat diartikan juga sebagai keterampilan stabil, gerakan yang dilakukan tanpa atau hanya sedikit sekali bergerak dari daerah tumpuannya.  Dapat juga didefinisikan sebagai gerakan-gerakan yang dilakukan dengan gerakan yang memerlukan dasar-dasar penyangga yang minimal atau tidak memerlukan penyangga sama sekali atau gerak tidak berpindah tempatGerakan stabilisasi ( nonlokomotor ) termasuk didalamnya, seperti :Stretching dan BendingTwisting dan TurningSwinging dan SwayingPushing dan Pulling .

     3.   GERAK MANIPULATIF
Gerak manipulatif melibatkan tindakan mengontrol suatu objek khususnya dengan tangan dan kaki. Ada dua klasifikasi keterampilan dari gerak manipulatif, yaitu reseptif dan propulsif. Keterampilan reseptif adalah menerima suatu objek seperti menangkap dan keterampilan propulsif memiliki ciri pengerahan gaya atau kekuatan terhadap suatu objek, seperti memukul, melempar, memantul atau menendang.
Walaupun sebagian besar keterampilan manipulatif menggunakan tangan dan kaki, tetapi bagian-bagian tubuh yang lain juga dapat digunakan. Manipulasi terhadap objek tertentu mengarah pada koordinasi mata-tangan dan mata-kaki yang lebih baik, terutama penting untuk gerakan-gerakan yang mengikuti jalan atau alur (tracking) pada tempat terentu.
Keterampilan manipulatif merupakan dasar-dasar dari berbagai keterampilan permainan (game skill). Gerakan yang memerlukan tenaga, seperti melempar, memukul, dan menendang dan gerakan menerima objek, seperti menangkap merupakan keterampilan yang penting yang dapat diajarkan dengan menggunakan berbagai jenis bola. Gerakan melambungkan atau mengarahkan objek yang melayang, seperti bola voli merupakan bentuk keterampilan manipulatif lain yang sangat penting. Kontrol terhadap suatu objek yang dilakukan secara terus menerus, seperti menggunakan tongkat atau simpai juga merupakan aktivitas manipulatif.

https://arham892.blogspot.co.id/2016/05/gerak-lokomotor-gerak-non-lokomotor.html

Karakteristik Peserta Didik

MEMAHAMI KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK


Kompetensi pedagogik ini, juga dijadikan syarat oleh pemerintah dalam menilai kemampuan dan kinerja guru  yang  terstandarisasi. Sehingga di dalam pendidikan dan pelatihan profesi guru (PLPG) dua kompetensi (pedagogik dan profesional) dimuat sebagai bagian dari materi  untuk memperoleh sertifikasi guru, yang dijabarkan secara jelas pada Kisi-kisi materi PLPG tersebut, Kompetensi Pedagogik dibagi dalam delapan (8) Kompetensi Inti Guru (KI) yang harus di kuasai, kemudian dijabarkan lagi menjadi beberapa Kompetensi guru mata pelajaran (KD) dan Indikator pencapaian kompetensi guru (IPK), sehingga untuk Kompetensi utama pedagogik ini, semuanya terdapat 28 Indikator Pencapaian Kompetensi, yang salah satunya adalah guru harus mampu memahami karakteristik peserta didik, agar potensi peserta didik dapat diidentifikasi sehingga memudahkan guru dalam mencapai hasil dari tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Memahami karakteristik peserta didik ini di lihat dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual merupakan Kompetensi Inti Guru (KI) dengan kompetensi guru mapelnya (KD) adalah menuntut guru mampu mengidentifikasi potensi peserta didik pada ruang lingkup bidang ilmu atau mata pelajaran yang diampu. Pada KD ini dibagi 3 item indikator pencapaian kompetensi, secara rinci dapat di kemukakan bahwa, dengan memahami materi karakteristik peserta didik, diharapkan guru akan mampu ;

1. Membedakan Potensi berdasarkan kemampuan dasar bidang ilmu/mata pelajaran
2.  Menentukan cara mengoptimalkan perkembangan potensi peserta didik
3.  Menentukan cara mengatasi kesulitan belajar peserta didik

Pemahaman guru terhadap karakteristik peserta didik ini memberikan gambaran bagi para guru, dari sisi mana potensi peserta didik, kelemahannya dapat dibantu atau ditumbuhkan dan kelebihan apa yang perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan. Potensi adalah kesanggupan, daya, kemampuan untuk lebih berkembang. Potensi peserta didik adalah kapasitas atau kemampuan dan karakteristik/sifat individu yang berhubungan dengan sumber daya manusia yang memiliki kemungkinan dikembangkan dan atau menunjang pengembangan potensi lain yang terdapat dalam diri peserta didik. Setiap peserta didik adalah individu yang unik. Unik karena mereka memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Sepatutnyalah potensi peserta didik diberdayakan.

Memahami batasan konsepsi materi dengan indikator ini, yang menjadi kewajiban guru untuk diprelajari hingga guru dapat memenuhi kemampuan dalam membedakan, mengoptimalkan, dan mengatasi kesulitan belajar, jelas di landaskan pada sudut padang upaya mengidentifikasi atau menanda ciri khususkan karakteristik individu peserta didik yang diamati dan dikelompokkan dari aspek sebagai berikut :

1. Fisik
Aspek Fisik merupakan bagaimana mengenal karakteristik (mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu) peserta didik, dengan Potensi fisik tidak hanya mengacu pada kondisi kesehatan fisik (kondisi kesehatan tubuh) dan keberfungsian anggota tubuh (cacat fisik, atau kemampuan alat indrawi, seperti penglihatan dan kemampuan pendengaran. tetapi juga berhubungan dengan proporsi pertumbuhan dan perkembangan fisik postur tubuh yang dipengaruhi asupan gizi yang dikonsumsi, perkembangan dan keterampilan psikomotorik (kemampuan dalam menggunakan skil aktifitas organ tubuh,) yang berhubungan dengan menurut Howard Gardner (1983) kecerdasan kinestetis. 

2. Moral

Moral merupakan aspek perilaku atau sikap yang sering ditunjukkan peserta didik dari ajaran tentang baik, buruk yang diterima umum mengenai sebuah respon tindakan atau perbuatan yang dalam perspektif agama sering kita kenal dengan istilah akhlak, budi pekerti, susila. sebagai contoh prilaku buruk atau mereka sudah bejat, mereka suka minum-minuman keras dan mabuk-mabukan (obat-obatan, zat adiktif), bermain judi, dan bermain perempuan. sedangkan untuk bermoral baik, ditunjukkan perilaku sopan, jujur, patuh, taat, yang untuk budaya timur seperti hormat pada yang tua lewat tutur bahasa yang lembut, menghargai nilai adat istiadat sehingga seseorang bisa dinilai bermoral sudah mulai  menunjukkan atau bahkan sudah menjalankan dengan mempunyai pertimbangan baik buruk dalam perbuatannya baik bagi alam, dirinya, dan orang lain.

3. Spiritual

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonsia, aspek spiritual adalah berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin). Kecerdasan spiritual (spiritual quotient;SQ) adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif. Ciri utama dari Kecerdasan Spiritual ini ditunjukkan dengan kesadaran seseorang untuk menggunakan pengalamannya sebagai bentuk penerapan nilai dan makna. Kecerdasan spiritual yang berkembang dengan baik akan ditandai dengan kemampuan seseorang untuk bersikap fleksibel dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, mampu menghadapi penderitaan dan rasa sakit, mampu mengambil pelajaran yang berharga dari suatu kegagalan, mampu mewujudkan hidup sesuai dengan visi dan misi, mampu melihat keterkaitan antara berbagai hal, mandiri, serta pada akhirnya membuat seseorang mengerti akan makna hidupnya serta mengaitkan hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha pencipta, tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh peserta didik

Menurut Burkhardt (1993) spiritualitas meliputi aspek-aspek : (1)Berhubungan dengan sesuatau yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan, (2) Menemukan arti dan tujuan hidup, (3)Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri, (4) Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan yang maha tinggi.

Mempunyai kepercayaan atau keyakinan berarti mempercayai atau mempunyai komitmen terhadap sesuatu, Konsep kepercayaan mempunyai dua pengertian. Pertama kepercayaan didefinisikan sebagai kultur atau budaya dan lembaga keagamaan seperti Islam, Kristen, Budha, dan lain-lain. Kedua, kepercayaan didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan Ketuhanan, Kekuatan tertinggi, orang yang mempunyai wewenang atau kuasa, sesuatu perasaan yang memberikan alasan tentang keyakinan (belief) dan keyakinan sepenuhnya (action), harapan (hope), Harapan merupakan energi yang bisa memberikan motivasi kepada individu untuk mencapai suatu prestasi dan berorientasi kedepan. Agama adalah sebagai sistem organisasi kepercayaan dan peribadatan dimana seseorang bisa mengungkapkan dengan jelas secara lahiriah mengenai spiritualitasnya. Agama adalah suatu sistem ibadah yang terorganisir atau teratur sehingga dengan aspek spiritual ini baik dalam pengertian sebagai kultur ataupun kekuatan tertinggi, inilah tentunya memberikan perbedaan cara pandang bagaimana kebiasaan dan keyakinan akan dipertahankan sebagai amalan terhadap agama yang dianut peserta didik.

sumber : https://pispianrahman.wordpress.com/2016/09/21/%E2%80%8Bmemahami-karakteristik-peserta-didik/

Kamis, 16 November 2017

Foto

Minggu, 12 November 2017

Fits dan Posner




Fits dan Posner multi-stage theory Mengidentifikasi 3 tahap pembelajaran tertentu: tahap kognitif, asosiatif, dan otonom. Jadi saat pelajar berkembang melalui tahap ini, mereka akan lolos dari kinerja yang tidak terampil dengan banyak kesalahan pada kinerja yang terampil dengan hanya kesalahan yang sangat kecil.

Tahap Kognitif:

Inilah tahap awal pembelajaran. Apa yang terjadi pada tahap awal ini adalah aspek kognitif seperti memahami sifat dan / atau tujuan dari aktivitas atau aktivitas. Untuk memberi contoh pada tahap ini saya akan berbicara tentang seorang siswa yang pertama belajar menendang sepak bola Australia. Siswa telah menerima instruksi dari guru melalui indera visual dan pendengaran. Instruksi seperti: A) Bagaimana cara memegang bola? B) Urutan run-up? C) Cara menjatuhkan bola D) Kapan dan kemana harus menjatuhkan bola E) Selalu arahkan kaki Anda sebelum dan sesudah memukul F) Ikuti melalui dengan menendang kaki. Siswa kemudian akan memiliki percobaan awal menggunakan informasi ini. Uji coba awal akan penuh dengan kesalahan. Tahap awal ini membutuhkan tingkat konsentrasi dan perhatian yang tinggi. Pada tahap awal ini, siswa memerlukan instruksi khusus untuk membantu mereka memperbaiki kesalahan yang ada karena siswa tidak akan sering tahu bagaimana memperbaikinya sendiri.

Tahap Asosiatif:

Ini adalah tahap tengah pembelajaran dimana dasar keterampilan telah ditetapkan dan dipelajari dan pelajar kemudian dapat mulai memperbaiki keterampilan yang diberikan. Pada tahap ini, pesepakbola muda itu akan belajar teknik menendang sepak bola, sekarang saatnya berlatih menendang untuk mendapatkan akurasi atau menendang seseorang saat beraktivitas dan mulai associate dirinya dengan situasi belajar. Tahap ini membutuhkan sedikit konsentrasi sehingga tahap kognitif namun tetap membutuhkan jumlah yang cukup besar. Kesalahan akan turun secara bertahap selama tahap ini. Peran instruktur atau guru pada tahap ini adalah memberi pelajar informasi tambahan yang berfokus pada tindakan tertentu dan menunjukkan isyarat yang relevan.

Tahap Otonom:

Ini adalah tahap akhir belajar dimana setelah banyak berlatih, pelajar telah menguasai keterampilan. Pada tahap ini peserta didik dapat melakukan keterampilan dengan sedikit usaha dan sedikit kesalahan. Nama otonom menunjukkan bahwa keterampilan telah menjadi hampir otomatis dan membutuhkan sedikit konsentrasi dan perhatian. Pada tahap ini pembelajar bisa mulai menyusun strategi tentang situasi permainan daripada mengkhawatirkan seberapa besar kekuatan untuk menerapkan atau lintasan tendangan. Pada tahap ini instruktur atau guru hanya perlu memfasilitasi situasi belajar karena pelajar akan memiliki pengetahuan untuk memperbaiki kesalahan sendiri.

sumber : http://ehlt.flinders.edu.au/education/DLiT/2004/18stages/multi_stage_theory.htm

PENDEKATAN, STRATEGI, METODE, TEKNIK, TAKTIK dan MODEL PEMBELAJARAN

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik dan Model Pembelajaran

Oka Miharja
Mendengar kata pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, teknik pembelajaran, taktik pembelajaran, dan model pembelajaran. maka "B I N G U N G" lah yang muncul di dalam benak para guru, karena dari kesemua kalimat tersebut sama-sama dengan arti yang sama berdekatan dengan tujuan akhir yang sama, "M A R I"   kita simak penjelasan berikut 


Sumber foto : okamiharja37.blogspot.com
Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Strategi pembelajaran
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam Strategi Pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:
  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
  1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
  2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008).
Metode pembelajaran
Jadimetode pembelajaran di sini dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Teknik Pembelajaran
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan taktik pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Taktik Pembelajaran.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)
Model Pembelajaran
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:
dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran.  Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
Sumber:
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/

Prinsip-prinsip penyusunan RPP

RPP merupakan rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci mengacu pada silabus, buku teks pelajaran, dan buku panduan guru. Dalam penyusunan RPP ada 10 prinsip yang mesti diperhatikan sebagai dasar. Posting kali ini akan dibahas mengenai 10 prinsip penyusunan RPP, yaitu sebagai berikut:

Pertama, setiap RPP harus secara utuh memuat kompetensi dasar sikap spiritual (KD dari KI-1), sosial (KD dari KI-2), pengetahuan (KD dari KI-3), dan keterampilan (KD dari KI-4).

Kedua, satu RPP dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih.

Ketiga, memperhatikan perbedaan individu peserta didik. RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.

Keempat, berpusat pada peserta didik. Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar, menggunakan pendekatan saintifik meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

Kelima, berbasis konteks. Proses pembelajaran yang menjadikan lingkungan sekitarnya sebagai sumber belajar.

Keenam, berorientasi kekinian. Pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan nilai-nilai kehidupan masa kini.

Ketujuh, mengembangkan kemandirian belajar. Pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk belajar secara mandiri.

Kedelapan, memberikan umpan balik dan tindak lanjut pembelajaran. RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.

Kesembilan, memiliki keterkaitan dan keterpaduan antarkompetensi dan/atau antarmuatan. RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara KI, KD, indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.

Kesepuluh, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

Demikian posting mengenai 10 prinsip penyusunan RPP. Semoga bermanfaat !

RECOVERY SETELAH BER OLAHRAGA


RECOVERY SETELAH BER OLAHRAGA



Cara pemulihan setelah berolahraga berikut recovery yang lakukan setelah berolahraga 

1. Pendinginan Setelah Berolahraga 
Melakukan pendinginan/warm down seperti berjalan santai terlebih dahulu sebelum berhenti/duduk agar otot dan jantung melakukan pendinginan secara perlahan
2. Nutrisi 
Usahakan untuk makan karbohidrat cepat serap seperti nasi putih,cola, madu, dan pisang. makanan" bagi otot. Sederhana saja seperti makan telur, yoghurt dan daging ayam atau sapi. Lebih baik jika meminum protein shake, 30 menit sebelum tidur meminum susu protein untuk mensuply makanan otot,

3. Merendam Kaki di Air Es / Dingin Merendam kaki di air yang dingin membuat otot merasa lebih rileks


4. Tidur
 Usahakan untuk cukup tidur minimal lebih kurang 6-8 jam dalam kurun waktu 24 jam.

5. Berolahraga Ringan
Esok harinya lakukan olahraga ringan seperti bersepeda santai, jalan-jalan santai, atau berenang agar memperlancar peredaran darah.

6. Mengangkat Kaki
Yang dimaksud adalah menaruh kaki lebih tinggi daripada badan (jantung) Tujuannya adalah untuk memperlancar peredaran darah agar asam laktat di peredaran darah cepat terurai.

7. Sport Massage
Lakukan sport massage. Untuk menghancurkan  asam laktat yang menggumpal di otot dan peredaran darah.

Jumat, 10 November 2017

GERAK MULTILATERAL



Gerak Multilateral Dalam Pembelajaran PJOK di Usia Dini
Secara operasional, praktik pendidikan usia dini sebaiknya berpusat pada kebutuhan anak, yaitu pendidikan yang berdasarkan pada minat, kebutuhan, dan kemampuan anak. Oleh karena itu, peran pendidik sangatlah penting. Pendidik harus mampu memfasilitasi aktivitas anak dengan material yang beragam. Pengertian pendidik dalam hal ini tidak hanya terbatas pada guru saja, tetapi juga orangtua dan lingkungan. Seorang anak membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Program latihannya pun harus disesuaikan dengan karakter perkembangan anak yang masih dalam taraf bermain. Selain itu program latihan harus disusun secara multilateral sehingga anak mempunyai kemampuan yang bermacam-macam walaupun pada akhirnya disalurkan pada salah satu cabang olahraga tertentu. ANAK USIA DINI Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas baik secara fisik, psikis, sosial, moral, dan sebagainya. Masa kanak-kanak juga masa yang paling penting untuk sepanjang usia hidupnya. Karena masa kanak-kanak adalah masa pembentukan fondasi dan dasar kepribadian yang akan menentukan pengalaman anak selanjutnya maka pemahaman tentang karakteristik anak usia dini menjadi mutlak adanya bila ingin memiliki generasi generasi yang mampu mengembangkan diri secara optimal. Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Secara rinci menurut Rahman (2005 : 33-37) karakteristik diuraikan sebagai berikut:
1. Usia 0-1 tahun Pada masa bayi perkembangan fisik mengalami kecepatan yang luar biasa, paling cepat dibanding usia selanjutnya. Beberapa karakteristik anak usia bayi dapat dijelaskan antara lain: 
  • Mempelajari keterampilan motorik mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan. 
  • Mempelajari keterampilan menggunakan panca indera, seperti melihat atau mengamati, meraba, mendengar, mencium, dan mengecap dengan memasukkan setiap benda ke dalam mulutnya. Mempelajari komunikasi sosial. Bayi yang baru lahir telah siap melaksanakan kontak sosial dengan lingkungannya. Komunikasi responsif dari orang dewasa akan mendorong dan memperluas respon verbal dan non verbal bayi. 
2. Usia 2-3 tahun Anak usia dini ini memiliki beberapa kesamaan karakteristik dengan masa sebelumnya. Secara fisik anak masih mengalami pertumbuhan yang pesat. Beberapa karakteristik khusus yang dilalui anak usia 2-3 tahun antara lain: 
  • Anak sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada di sekitarnya. Ia memiliki kekuatan observasi yang tajam dan keinginan belajar yang luar biasa. Eksplorasi yang dilakukan oleh anak terhadap benda apa saja yang ditemui merupakan proses belajar yang sangat efektif. 
  • Anak mulai mengembangkan kemampuan berbahasa. Diawali dengan berceloteh, kemudian satu dua kata dan kalimat yang belum jelas maknanya. 
  • Anak mulai belajar mengembangkan emosi. Perkembangan emosi anak didasarkan pada bagaimana lingkungan memperlakukan dia, sebab emosi bukan ditentukan oleh bawaan, namun lebih banyak pada lingkungan. 
3. Usia 4-6 tahun Anak usia 4-6 tahun memiliki karakteristik antara lain: 
  •  Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan. Hal tersebut sangat bermanfaat untuk mengembangkan otot-otot kecil maupun besar. 
  • Perkembangan bahasa juga semakin baik. Anak sudah mempu memahami pembicaraan orang lain dan mampu mengungkapkan pikiran dalam batas-batas tertentu. 
  • Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar. Hal ini terlihat dari seringnya anak menanyakan segala sesuatu yang dilihat. 
  • Bentuk permainan masih bersidat individu, bukan permainan sosial walaupun aktivitas bermain dilakukan secara bersama.
4. Usia 7-8 tahun Karakteristik perkembangan anak usia 7-8 tahun antara lain:
  • Perkembangan kognitif anak masih berada pada masa yang cepat. Dari segi kemampuan, secara kognitif anak sudah mampu berpikir bagian per bagian. 
  • Perkembangan sosial, anak mulai melepaskan diri dari otoritas orang tuanya. Hal ini ditunjukkan dengan kecenderungan anak untuk selalu bermain di luar rumah dan bergaul dengan teman sebayanya. 
  • Anak mulai menyukai permainan sosial. 
  • Perkembangan emosi anak sudah mulai terbentuk dan tampak sebagian dari kepribadian anak. Walaupun pada usia ini masih pada taraf pembentukan, namun pengalaman anak sebenarnya telah menampakkan hasil. 

Multilateral Pada Anak Usia Dini
Konsep dasar dari program latihan bagi anak usia dini adalah multilateral dan permainan. Oleh karena itu berbagai kegiatan olahraga harus diajarkan agar anak memiliki kemampuan fisik secara menyeluruh. Aspek latihan yang perlu dikembangkan pada anak usia muda adalah terutama keterampilan (teknik) gerak dasar yang benar dengan kemampuan fisik dasar yang baik bagi anak usia dini selama 9 bulan.
Penjabaran Dengan Kegiatan Kemampuan Fisik Dasar
1. Kegiatan Pengenalan Organisasi, Aturan-aturan, dan Formasi. Salah satu permainan yang dapat digunakan untuk mengenalkan organisasi, aturan-aturan dan formasi adalah permainan pulau di tengah lautan. Sasaran dari permainan ini adalah: 

  • Mengidentifikasi keselamatan dan belajar dari manfaat mengikuti aturan, 
  • Mengidentifikasi petunjuk dari kelas, 
  • Belajar memulai dan menghentikan sinyal, 
  • Bergerak ke informasi formasi dan petunjuk, dan 
  • Bergerak dengan batasan-batasan. Sedangkan peralatan yang digunakan adalah Potongan karpet per anak dan 5-10 kantong kecil. 

Inti dari permainan ini adalah: 

  • Menjelaskan tentang informasi formasi. Jika ada perintah informasi formasi, anak menjalankan dan membentuk kelompok (misalnya ber-3, ber-4 atau ber-5). Setelah melakukan beberapa kali maka anak tetap pada formasi kemudian duduk dan dijelaskan maksud dari informasi-informasi yang diberikan apabila dikaitkan dalam olahraga. 
  • Menjelaskan pentingnya aturan dan menanyakan apakan pentingnya aturan itu seperti apa yang terjadi jika tidak ada aturan, dan apa aturan yang harus dimiliki dalam pendidikan jasmani agar selamat dan. 
  • Menjelaskan dan meminta menulis tentang aturan-aturan dalan pendidikan jasmani seperti tangan diam, berhatihati, mendengarkan dan melihat untuk petunjuk berhenti, baik (tidak berkelahi), mendengarkan dan mengerjakan, dan melakukan yang terbaik.
2. Latihan Kebugaran.
Latihan kebugaran dilakukan sebanyak 2 kali. Masing-masing latihan tersebut adalah:
a. Latihan Kebugaran 1 

  • Sasaran: a) Latihan kelenturan, b) Latihan kebugaran lari, c) Menjelaskan pentingnya latihan dan pemanasan sebelum tes, d) Mendemonstrasikan hubungan ketika latihan dan kelenturan. 
  • Pemanasan: a) Berdiri tegak dan menyentuhkan tangan pada kaki dengan kaki tetap lurus, dan b) Tidur telungkup kemudian membungkukkan badan dan kaki berjalan pelan ke tangan, 
  • Kegiatan yang dilakukan : a) Melakukan latihan tes kelenturan dengan duduk kaku diluruskan dan membungkukkan badan semaksimal mungkin dan berhenti sampai terasa sakit, dan b) Latihan lari sejauh 400 m dengan lintasan di buat 7 bujur sangkar. Pelaksanaan lari dilakukan 4 kali. Setiap lari 100 m sampai ujung lintasan. Dilakukan sampai akhirnya berlari sejauh 400 m. 
  • Penutup: a) Menjelaskan manfaat latihan tes baik kelenturan maupun lari (cardio respirasi) 
  • Sasaran: a) Latihan melakukan sit up yang benar, b) Latihan melakukan push up yang benar, dan c) Bekerjasama dengan melihat teman yang melakukan sit up dan push up. 
  • Kegiatan: a) Push up: dimulai dengan tidur telungkup dan meletakkan jari kaki dan tangan disamping dada, meluruskan lengan dan mempertahankan badan tetap lurus, dan melakukan push up secara berpasangan dan saling mengamati. b) Sit up: melakukan sit up secara pelan dengan tungkai di tekuk dan tangan disilangkan menempel di dada. dan merasakan otot yang bekerja. 
  • Penutup: mendiskusikan pentingnya melakukan push up dan sit up dengan anak dan memberi penguatan tentang sit-up dan push-up.
3. Latihan Circuit Trainning 
  • Sasaran: 1) mendemonstrasikan cirkuit kebugaran 1, 2) menjelaskan bahwa latihan yang baik dilakukan minimal 3 kali seminggu, dan 3) Menjelaskan kebugaran jasmani berarti mempunyai energi yang cukup untuk bergerak seharian dan sehat. 
  • Pemanasan:1) Melakukan pemanasan rutin yang mencakup Streching body standing (16 hitungan), rag doll (16 hitungan, side lunges (16 hitungan), knee dips (16 hitungan), airplane circle: Putar ke depan 8 hitungan dan putar ke belakang 8 hitungan masing-masing dilakukan 2x8 hitungan. 2) Menjelaskan bahwa akan melakukan latihan dengan berganti aktivitas dengan sangat pelan kemudian dilakukan lagi dengan menambah kecepatan dan akhirnya akan dilakukan sampai dengan cepat sesuai dengan kemampuan masing-masing. 
  • Latihan circuit training 1 yang meliputi: stasion 1: Jumping jack,stasiun 2: airplane circles, stasiun 3: sit up, stasiun 4: crab walk, stasiun 5: push up, stasiun 6: rope jump. Pengulangan latihan : 1) Ronde 1: waktu masing-masing stasiun 15 detik dan waktu istirahat 15 detik , 2) Ronde 2: waktu masing-masing stasiun 20 detik dan waktu istirahat 15 detik, 3) Ronde 3: waktu masing-masing stasiun 25 detik dan waktu istirahat 15 detik, 4) Ronde 4: waktu masing-masing stasiun 30 detik dan waktu istirahat 15 detik, 
  • Latihan circuit trainning 2 yang meliputi: 1) Stasion 1: lari zig-zag, 2) Stasiun 2: hip rais, 3) Stasiun 3: line jump, 4) Stasiun 4: trisep push up, 5) Stasiun 5: agility run dan 6) Stasiun 6: crunches
4. Permainan dan Olahraga Dalam kegiatan permainan dan olahraga perencanaan yang dilakukan meliputi latihan keterampilan. Adapun latihan tersebut adalah sebagai berikut: 
  • Pengenalan bagian tubuh anak. Peralatan yang digunakan adalah kantong kecil yang diisi dengan kapas. Pemanasan yang dilakukan adalah dengan melempar kantong-kantong dengan lemparan zig-zag secara berpasangan.
Setelah melakukan pemanasan, anak disuruh memegang kantong dan atas perintah meletakkan kantong tersebut ke bagian-bagian tubuh anak (misalnya kepala, bahu, tangan, kaki dll) kemudian anak menyebutkan bagian tubuh tersebut. Kegiatan ini dilakukan dengan berjalan ataupun di tempat. 
  • Melempar, Menangkap dan Melambungkan kantong Melakukan lempar dan tangkap melewati tali. Pada lempar dan tangkap awal dilakukan tanpa menggunakan aturan. Setelah beberapa kali dilakukan kemudian digunakan aturan untuk melempar dengan tangan kanan (kecuali kidal) dan menangkap dengan tangan kiri.
Selain menggunakan tali, lempar tangkap dapt pula dilakukan dengan menggunakan sinpai atau dengan pengungkit yang di injak sendiri agar kantong bisa melayang kemudian ditangkap. Setelah anak melakukan lempar tangkap dengan menggunakan kantong, kemudian dilanjutkan dengan menggenakan bola busa, bola tenis dan akhirnya bola tenis. Dengan demikian tingkat kesulitan akan selalu bertambah dan kesiapan untuk mempelajari permainan softball akan semakin tinggi.
  • Keterampilan lokomotor dengan rintangan. Pada aktivitas ini anak melakukan kegiatan berjalan, berlari, dan melompat selama 20 menit dengan rintangan yang sudah ditentukan

Kesimpulan
Olahraga dalam bingkai pendidikan merupakan manifestasi bentuk aktivitas gerak yang memberikan pengalaman motorik, sosial-budaya, dan mampu untuk mengembangkan kognisi-afeksi anak pada usia awal. Pemberian program latihan yang benar dan tepat akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian prestasi jangka panjang tanpa mengabaikan usia pertumbuhan dan perkembangan anak. 







Anak usia 3-5 tahun anak sudah mampu melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat menggunakan kemampuan motorik kasar. Pada anak usia 5-8 tahun perkembangan anak biasanya pertumbuhan fisik telah mencapai kematangan, anak telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangan. Anak juga telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Dari perbedaan kemampuan motorik tersebut dapat di gunakan sebagai bahan pertimbangan guna menyusun program latihan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak pada usia tersebut.
Pemanasan yang dilakukan sebelum melakukan permainan dengan cara menjelaskan bahwa karpet di ibaratkan pulau, masing-masing anak memiliki pulaunya sendiri dan sangat kecil. Setiap anak harus berusaha untuk tetap kering dengan tetap berada dalam potongan karpet. Setelah anak melakukannya kemudian diberikan aba-aba bergerak dan posisi berdiri, jalan, jongkok, berlutut, berdiri dan memegang ujung jari, melompat, berbalik dan duduk namun anak harus tetap berada dalam karpet. Apabila anak mampu melakukan dengan baik maka harus diberikan pujian kepada anak tersebut. 


Sumber : http://zeryzullfikarafriana.blogspot.co.id/2017/04/pengertian-gerak-multilateral-dalam.html









Terima kasih atas kunjungannya... semoga bermanfaat...